Mengurai kemacetan Surabaya dengan SMART
Widya Anggraini, Surabaya Community Manager
Surabaya, 15 Juli 2015
Kota Surabaya mengalami kemajuan pesan selama 10 tahun terakhir dari sisi pemerintahan yang kian terbuka melalui penerapan e-government serta dari sisi tata kotanya terlihat dari banyaknya kemajuan dalam pengelolaan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah dan pengelolaan sanitasi serta drainase. Namun bagaimana dengan perkembangan sistem transportasinya. Hal ini lah yang akan diuraikan lebih lanjut dalam artikel ini mengenai bagaimana kota Surabaya menciptakan system transportasi terintegrasi yang berkeadilan bagi masyarakat baik yang secara sosial, ekonomi dan fisik terpinggirkan.
Selama ini angkutan umum yang tersedia dikategorikan dalam tiga jenis yaitu kereta api, bis kota dan mikrolet. Namun demikian ketiga jenis angkutan umum tersebut masih mengalami permasalahan dalam hal pelayanan, kehandalan dan manajemen. Transportasi publik Surabaya sulit diatur sebab masih terlalu banyak operator pada setiap trayek sehingga sulit dikendalikan; pembagian trayek dan sistem setoran yang tidak jelas sehingga tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas pelayanan terhadap trayek tertentu. Contohnya Mikrolet banyak dimiliki oleh perorangan sehingga menyulitkan pengaturannya. Namun demikian kini, sejak bulan Maret 2015 telah terbit peraturan yang mengharuskan tiap angkutan perorangan dan barang harus berbadan hukum. Peraturan ini juga menyediakan insentif bagi pemilik angkutan yang berbadan hukum sehingga mereka hanya harus menyetor sekitar 30 persen dari total setoran. Dengan demikian mereka dapat menerapkan system tarif yang lebih murah.
Selain pengaturan mikrolet, mengatasi kemacetan Surabaya dilakukan melalui penerapan kebijakan pengembangan system terpadu mencakup peningkatan fungsi jalan, peningkatan kualitas transportasi umum dan pengendalian kepemilikan kendaraan pribadi. Kebijakan ini kemudian dijabarkan dalam tiga rencana utama yaitu implementasi Surabaya Integrated Mass Rapid Transit (SMART), penyediaan angkutan pengumpan atau feeder dan trunk. SMART akan diterapkan melalui pembuatan system angkut masal yang terintegrasi dengan angkutan lain. Angkutan Masal Cepat (AMC) berbentuk monorail dan trem. Monorail rencananya dibangun mulai dari koridor barat-timur (Lidah-Kulon-Keputih) sepanjang kurang lebih 25 km. monorail dipilih karena lebih mudah dari sisi pembebasan tanah karena elevated, kapasitas lebih banyak dan mengurangi titik konflik. Sedankan tram akan dibangun di koridor utara-selatan (perak-wonokromo) sepanjang 17,14 km. untuk jalur ini dipilih tram karena jalur tersebut memiliki banyak cagar budaya dan pembangunannya tidak akan mengurangi kapasitas jalan karena mixed lalu lintas. Sementara itu penyediaan feeder dan trunk ditujukan untuk memudahkan masyarakat berganti moda transportasi dan menghemat waktu dan biaya karena konsepnya yang terintegrasi.
Rencana pembangunan AMC tidak terlepas dari berbagai permasalahan seperti soal kelembagaan dimana belum ada titik temu antara pemkot dan DPRD; tingginya investasi yang mencapai Rp 8.6 triliun menyebabkan kesulitan mencari investor untuk menjadi mitra kerja; penentuan tariff tiket dan jumlah subsidi yang akan membantu kelompok masyarakat berpenghasilan rendah juga belum disepakati. Selain itu pemerintah juga harus mengupayakan pengintegrasian angkutan umum yang sudah ada saat ini agar pemilik kendaraan tetap bisa beroperasi sebab banyak dari angkutan umum seperti mikrolet sudah memiliki trayek ke hampir seluruh jalur di Surabaya. Dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi, kabar baik datang dari PT KAI untuk membantu penyediaan tram dimana saat ini sedang dilakukan pengkajian teknologi tepat guna dan pemkot akan mengurus biaya dan penyediaan lahan. Pembangunan selanjutnya akan menggaet lebih banyak investor dan konsorsium untuk melaksanakan system SMART.
Foto: Jono Pare
Permalink to this discussion: http://urb.im/c1507
Permalink to this post: http://urb.im/ca1507sui
