![]() |
Kota nelayan Muara Angke terancam hilang
Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Jakarta Utara merupakan salah satu dari lima kota di Jakarta yang keseluruhan bagiannya merupakan daerah pesisir. Secara historis Jakarta berkembang melalui wilayah ini sebab keberadaan pelabuhan utama bagi Kerajaan Tarumanegara, sebutan Jakarta dahulu kala, memungkinkan Jakarta melakukan aktivitas ekonomi dengan berbagai daerah dan berkembang seperti saat ini. Secara administratif, Jakarta memiliki enam kecamatan dengan beragam potensi perikanan laut. Salah satu daerahnya adalah Muara Angke di Kecamatan Penjaringan yang dikenal sebagai desa nelayan dan rumah bagi hutan asli mangrove. Beragam masalah kini hadir di daerah tersebut dikarenakan berkurangnya jumlah nelayan dan hasil produksi mereka karena sulitnya modal dan kekhawatiran kehilangan ladang karena proses reklamasi di Pantai Utara yang rencananya akan dijadikan permukiman. Untuk itu pemerintah saat ini telah melaksanakan sebuah program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP) dan rencana menjadikan kampung nelayan menjadi daerah wisata. Selain itu berbagai Lsm penggiat lingkungan melakukan advokasi penyelamatan hutan mangrove di Jakarta.
Muara Angke terletak di kelurahan Kapuk Muara yang terkenal dengan kampung nelayannya, palabuhan dan tempat pelelangan ikan. Menurut Dinas Peternakan, perikanan dan Kelautan Jakarta jumlah nelayan di Jakarta Utara kian tahun kian menurun terutama disebabkan kenaikan konstan bahan bakar minyak. Sehingga banyak dari mereka tidak melaut dengan alasan biaya tinggi dan merugikan nelayan. Untuk ini pemerintah telah mempersiapkan sebuah program pemberdayaan bagi masyarakat nelayan melalu PEMP yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pesisir dalam mengelola potensi laut dan mendorong munculnya kelompok-kelompok pendukung pengelolaan sumberdaya laut dan pantai. Program ini menyediakan dana hibah untuk penguatan koperasi nelayan atau dikenal sebagai Dana Ekonomi Produktif untuk mengatasi kesulitan permodalan nelayan. Dana ini diberikan pada nelayan kecil dan pembudidaya ikan-ikan kecil serta koperasi perikanan. Skema kredit disediakan dengan bunga rendah dan cara yang tidak rumit. Pada awalnya, dana langsung diberikan pada koperasi nelayan, namun kini dilakukan melalui lembaga perbankan. PEMP memberikan manfaat bagi nelayan dalam permodalan dan meningkatkan produksi mereka. Untuk selanjutnya PEMP ini akan dileburkan dalam program pemerintah yang lain bernama PNPM Mandiri Kelautan dan Perikanan.
Sementara itu, selain terkenal sebagai kampung nelayan dan pasar ikan, Muara Angke juga merupakan rumah bagi hutan mangrove terakhir di Jakarta. Kawasan hutan ini memiliki suaka margasatwa, hutan lindung dan taman wisata dengan berbagai spesies binatang yang dilindungi didalamnya. Kini pemerintah berencana mereklamasi pesisir pantai utara yang rencananya akan digunakan sebagai wilayah permukiman. Jika proyek ini terus dilakukan, makan wilayah tersebut akan kehilangan hutan mangrove, spesies ikan, kerang dan binatang laut lainnya. Selain itu dikhawatirkan banjir akan selalu melanda Jakarta Utara. Yayasan lingkungan seperti Yayasan Kehati meluncurkan program 'Merajut Sabuk Pesisir Hijau Indonesia' dengan menanam mangrove di pesisir Pantai Utara dan Selatan Pulau Jawa. Saat ini telah terkumpul lebih dari 100.000 bantang mangrove untuk disebar di beberapa kawasan dan ditanam bersama mitra-mitra Kehati.
Secara keseluruhan, berbagai upaya mempertahankan upaya agar Muara Angke tetap berfungsi sebagai kampung nelayan dan mensuplai kebutuhan ikan kota-kota di wilayah Jakarta telah dilakukan melalui upaya kemudahan memperoleh akses ke modal, pelatihan bagi nelayan untuk memanfaatkan hasil laut, pembangunan sarana dan prasarana penunjang pelabuhan laut serta di saat yang sama masyarakat peduli lingkungan mendukung dengan penanaman mangrove dan upaya advokasi seperti yang dilakukan LSM Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan yang menolak upaya reklamasi Pantai Utara.
Foto: stephane.puron

