![]() |
Kerjasama Selatan-Selatan sebagai wadah pembelajaran bersama
Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Indonesia's involvement in South-South Cooperation dates back to the 1955 Asia-Africa Conference in Bandung. Since then, Indonesia has developed a number of technical initiatives, including significant bilateral cooperation with Tanzania starting in the 1990s, with support from Japan. This cooperation has included an exchange program, jobs training, capacity building, the establishment of an agriculture learning center, and regular meetings of the Joint Agriculture Coordination Committee. In the future, this type of South-South Cooperation framework will be replicated and improved upon by the Indonesian government, with support from international donors, and can provide the basis for cooperative technical and knowledge-sharing initiatives targeting urban poverty.
Sejarah Indonesia terlibat dalam Kerjasama Selatan-Selatan (KSS) atau dikenal dengan South-South Cooperation (SSC) dimulai sejak pelaksanaan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955. Konferensi ini memiliki peran penting dalam mendorong kerjasama yang saling menguntungkan antar negara-negara berkembang. Pertemuan ini merupakan cikal bakal terbentuknya Gerakan Non-Blok pada tahun 1961 dan Kelompok 77 tahun 1964. Salah satu hasil dari kerjasama mereka adalah pembentukan Pusat gerakan Non Blok untuk Kerjasama Teknis Selatan-Selatan (Non-Aligned Movement Centre for South-South Technical Cooperation - NAM-CSSTC) dalam rangka mempercepat pembangunan di negara-negara berkembang atas inisiatif Indonesia dan Brunei Darussalam. Sejak tahun 1981 Pemerintah Indonesia mulai aktif mengadakan kerjasama teknis dengan membentuk Indonesian technical Cooperation Program (ITCP) yang bertujuan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan Indonesia tentang pembangunan yang dianggap sukses di Indonesia melalui program pelatihan dan pertukaran ahli di Indonesia dengan dukungan dari negara lain dan donor internasional.
ITCP secara berlanjut menawarkan bantuan teknis yang terangkum dalam TCDC (Technical Cooperation among Developing Countries) Program. Salah satu bentuk Kerjasama Selatan-selatan di Indonesia adalah kerjasama bidang pertanian dengan Tanzania yang berlandaskan pada kenyataan bahwa pertanian merupakan salah satu kesamaan utama antara Negara-negara Asia dan Afrika dan bahwa sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian. Selama kurun waktu 1990-2009 Indonesia telah membantu Tanzania dengan berbagai kegiatan diantaranya adalah program magang bagi petani Tanzania, program pelatihan bagi pejabat pertanian Tanzania, pengiriman tenaga ahli pertanian Indonesia ke Tanzania dan mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan atau Farmers Agriculture and Rural Training Center (FARTC). FARTC dibangun pada tahun 1998 di desa Mkido-Morogoro, Tanzania, disertai dengan pemberian kendaraan dan motor serta sarana diklat dan bantuan pompa air yang merupakan sumbangan masyarakat petani Indonesia sebagai upaya meningkatkan produksi pangan di Tanzania melalui pertanian. Program ini secara nyata telah berhasil meningkatkan hasil gabah Tanzania dari 3.8 ton/ha menjadi 6 ton/ha. Sementara itu, dari segi pembiayaan, kerjasama bidang pertanian ini dilaksanakan dengan konsep Tripartite Financing Management dan Triangle Co-operation yang melibatkan Pemerintah Jepang (JICA).
Selanjutnya, dalam rangka mempererat hubungan bilateral Indonesia-Tanzania juga dibentuk Joint Agriculture Coordination Committee (JACC). Pertemuan pertama JACC di laksanakan di Bogor pada tahun 2010 sedangkan pertemuan kedua dilaksanakan di Dar es Salaam, Tanzania pada tahun 2012. Dalam kedua pertemuan tersebut telah disepakati untuk melakukan tiga kegiatan utama yaitu:
Peningkatan Kapasitas (Capacity Building): Dalam kerangka capacity building, maka dua Negara ini akan bertukar pelatihan. Indonesia akan memberikan peningkatan keterampilan di bidang teknologi agro-bisnis hortikultura. Selanjutnya beasiswa S2 dan S3 dari Kemendikbud juga akan diberikan untuk warga Negara Tanzania. Sementara itu Tanzania akan memberikan pelatihan di bidang kesehatan hewan.
Penelitian dan Pengembangan (Research and Development): Indonesia dan Tanzania akan mengadakan penelitian bersama mengenai kapas dimana pada saat ini dari pihak Tanzania sendiri mengalami permasalahan terkait pembibitan kapas. Selain persoalan kapas, riset bersama juga akan mencakup permasalah petani terkait system produksi bibit dan teknologi pasca panen serta masalah peternakan dan perikanan.
Akses Pasar (Market Access): Dalam rangka meningkatkan perdagangan, terutama di bidang pertanian, maka kedua Negara sepakat untuk membentuk Billateral trade Committee serta membangun promotion house di Dar es Salaam sebagai wadah pengenalan teknologi pertanian terbaru.
Bentuk kerjasama selatan-selatan saat ini yang dominan dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia adalah pada pemberian pelatihan teknis, namun dimasa yang akan datang akan dilakukan berbagai inovasi kerjasama seperti pembentukan pusat studi atau pusat ekonomi bagi kedua Negara untuk memajukan kesejahteraan bersama.
Foto: SSC Indonesia

