![]() |
Memandirikan anak jalanan
Widya Anggraini, Jakarta Community Manager
Street children are a common phenomenon in big cities: there are currently around 230,000 street children in Jakarta. In response to this problem, the government's Social Ministry has developed a program called the Child Social Welfare Program, which provides street children with shelter and different kinds of life skills to enable them to survive and leave street life. The private sector — through CSR initiatives — along with community programs run an initiative that trains street children with technical skills so that they can find employment to get themselves off the street.
Fenomena anak jalanan (Anjal) merupakan permasalahan sosial yang hadir terutama di kota-kota besar. Menurut data Kementerian Sosial RI (Kemensos) saat ini di Indonesia secara keseluruhan terdapat sekitar 4,5 juta anak terlantar. Untuk Jakarta sendiri anak terlantar mencapai lebih dari 230.000 anak. Mereka dengan mudah ditemui setiap traffic light, halte bis, pasar dan berbagai tempat-tempat umum lainnya. Umumnya mereka bekerja sebagai pengamen, penyemir sepatu, peminta-minta maupun penjual makanan kecil di jalanan dan bahkan beberapa dari mereka membentuk geng yang kerap membuat onar dan meresahkan masyarakat.
Menanggapi permasalahan anak, Kemensos membuat sebuah program bernama Program Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) sebagai wujud pemenuhan hak dan perlindungan terhadap anak. Dalam pelaksanaannya, program ini bekerja sama dengan Panti yang berfungsi sebagai shelter anak jalanan dan memfasiliatasi pemberdayaan mereka. Salah satu kegiatannya adalah pemberdayaan bagi Anjal yang memiliki ketertarikan terhadap seni. Beberapa grup band anak jalana diajak ke Studio rekaman 'Sebut Indonesia' dan melakukan rekaman bersama. Rencananya Kemensos juga akan memfasilitasi launching perdana hasil rekaman anak jalanan ini dan membuat video klip agar bisa didistribusikan ke masyarakat luas.
Kepedulian masyarakat juga tinggi tehadap keberadaan anjal terbukti dengan didirikannya rumah singgah oleh berbagai yayasan seperti Rumah Singgah Tjiliwoeng di Manggarai Utara yang didirikan oleh Yayasan Bhakti Nurul Iman yang memiliki hampir 200 anak jalanan binaan. Kebanyakan rumah singgah juga didukung oleh Kemensos dari segi pendanaan dan penyediaan tenaga ahli untuk beragam pelatihan teknis yang kerap diberikan oleh rumah singgah seperti yang diadakah oleh Rumah Singgah Anak Mandiri yang mengadakan pelatihan computer dan pengenalan internet kepada anak-anak binaannya. Rumah singgah memiliki manfaat yang besar kepada anak jalanan ini sebab sebagian besar mereka menghabiskan waktu dijalanan guna mencari uang dengan beragan tekanan fisik atau mental yang mereka terima dijalanan. Adanya rumah singgah membantu mereka mendapat pelayanan sosial seperti pendidikan non formal, kesehatan, pelatihan, santunan, kegiatan rekreasi dan ketrampilan.
Perhatian terhadap anak jalanan juga diberikan oleh pihak swasta yang kerap mengucurkan dana melalui CSR perusahaan, seperti yang dilakukan oleh Telkomsel yang memberikan pelatihan teknisi ponsel bagi anak anak binaan yang berasal dari Rumah Singgah Bina Anak Pertiwi di Jakarta Selatan dan Rumah Singgal Anak Kurnia di daerah Jakarta Timur. Kegiatan ini, menurut Telkomsel, dilaksanakan dalam rangka menumbuhkan kepercayaan diri bahwa mereka juga memiliki potensi untuk berkarya dan mandiri. Setelah pelatihan, peserta memiliki kesempatan untuk magang di sejumlah gerai Telkomsel Siaga untuk mempraktikkan keahlian baru mereka.
Secara keseluruhan, upaya mendidik dan memandirikan anak jalanan merupakan tanggung jawab bersama sebab permasalahan anjal muncul akibat gejolak ekonomi dan sosial di masyarakat dan berakibat terhadap anak. Oleh sebab itu, upaya mengatasi fenomena anjal melalui pemberian pendidikan formal maupun non-formal melalui berbagai pelatihan diharapkan akan mempersiapkan mereka dengan keahlian hidup dan mampu berusaha dengan mandiri dan keluar dari kehidupan jalanan.
Foto: Arifin Syaputra

